Baca cerita & berita untuk memperluas wawasan

Jumat, 30 September 2016

TUHAN & AGAMA DIMASA KINI

FENOMENA AGAMA SEBAGAI KOSMETIK SOSIAL, TOPENG HIPOKRASI DAN DAGANGAN POLITIK (Artikel 2)


      Saat ini agama bukanlah lagi penuntun nurani manusia ke jalan yg benar namun bertransformasi secara perlahan menjadi kosmetik sosial, topeng hipokrasi dan dagangan politik. Kita beragama di dalam KTP namun mengabaikan ajaran2 suci agama di dalam berperilaku_DT

Agama muncul sebagai jawaban akan kekosongan dan keterbatasan daya pikir dan daya jangkau nurani manusia. Agama, secara prinsipil, apapun agama itu, memberi arahan relasi baik antara manusia dan Tuhan serta relasi baik antar manusia dengan sesamanya, bahkan juga dengan alam di sekitarnya. Agama secara praktis menuntun hidup manusia agar jauh dari hal2 tercela dan hal2 buruk. Maksudnya adalah bagaimana manusia dapat mengekang hasrat2 liarnya dengan aturan2 moral yang jelas dan sanksi2 tertentu.

Namun dewasa ini, agama telah kehilangan makna. Agama telah menjadi kosmetik sosial dimana agama digunakan sebagai alat pencitraan diri seseorang di dalam lingkungan sosial dengan berbagai motivasi dan tujuan yang secara umum tidak jauh dari kekuasaan, ketenaran, harta dan kenikmatan2 duniawi. Dengan lapisan kosmetik agama, latar belakang asli seseorang yang sebenarnya ditutupi sehingga yang nampak adalah gambaran atau citra yang baik, alim, bijaksana, takwa dan beriman. Simbol2 agama sengaja digunakan dan ditonjolkan dibarengi dengan tingkah laku santun hasil polesan sehingga banyak orang yang tidak waspada dan kritis gampang sekali tertipu.
Ajaran agama yang bernilai luhur, baik dan indah telah secara sadar dan sistemik diubah menjadi topeng2 yang menutup kemunafikan manusia. Lihat dan perhatikan bagaimana para koruptor yang telah dengan sadar menjarah uang negara dan ikut berkontribusi di dalam proses pemiskinan rakyat Indonesia tiba2 berubah menjadi santun dan alim dengan dibungkus oleh atribut2 dan simbol2 agama. 
Selain itu, pandanglah realitas dimana agama adalah dagangan laris bagi para pelaku politik di negeri ini. Lihat bagaimana demi mendapat simpati dari masyarakat, seorang tokoh politik tiba2 menjadi perduli terhadap tokoh2 agama dan lembaga2 pendidikan agama. Perhatikan bagaimana para politikus menjadikan agama sebagai komoditi politik dimana secara faktual rakyat menjadi saksi bagaimana sekelompok masyarakat minoritas penganut agama tertentu menjadi sangat sulit untuk menjalankan kewajiban agamanya berupa kebebasan beribadah. Bagaimana mungkin kebebasan beragama yang diatur di dalam konstitusi menjadi begitu sulit diterapkan di lapangan. Bukankah agama yang sejati tujuannya membebaskan manusia dari penderitaan dan rasa takut, bukan sebaliknya, mengekang manusia di dalam ketakutan dan intoleransi?
 
Menurut saya, secara prinsipil agama mestilah dibersihkan dari kepentingan2 politik. Nilai2 suci dan luhur agama yang sebenarnya jauh dari sikap kekerasan, seharusnya tidak dipadukan dengan kepentingan2 politik yang kotor, munafik dan penuh dengan tipudaya.
pergeseran nilai dewasa ini yang menjadi semakin liberal secara langsung berbenturan dengan nilai2 agama yang masih dianut oleh masyarakat Indonesia. Karena posisi  dan peran agama masih kuat di Indonesia maka pilihan terbaik bagi orang2 yang tidak dekat dengan agama adalah berlaku munafik dengan polesan kosmetik sikap yang seakan akan sangat agamis, namun sebenarnya sangatlah liberal. Memang patut disayangkan bahwa tanpa sadar pemerintah telah menciptakan kondisi yang mendorong rakyat Indonesia untuk berperilaku munafik soal agama. Perhatikanlah kartu identitas atau KTP anda. Kenapa harus mencantumkan informasi agama? Apakah faedahnya? Secara prinsip tidak ada manfaatnya. Seharusnya tidak boleh ada pengkotak-kotakan masyarakat dengan sengaja mencantumkan kolom agama di KTP karena akan secara tidak sadar akan memberi pengaruh buruk. Ada penduduk yang menganut agama mayoritas akan merasa bangga, bukan karena kualitas iman dan takwanya tetapi karena merasa menjadi golongan mayoritas secara kuantitas. Sebaliknya, penganut agama minoritas mungkin akan merasa inferior terhadap kenyataan  bahwa ia masuk ke dalam golongan penganut agama yang sedikit penganutnya. 

Maksud saya di sini bahwa sudah saatnya kita bersikap arif. Hilangkanlah kolom identitas agama dari KTP karena agama tidak memiliki relevansi nyata dengan identitas diri seseorang. Relasi antar umat beragama jangan diatur dengan sistematis. Biarkanlah itu mengalir alami di antara kelompok masyarakat yang ada. Semoga agama tidak hanya menjadi kosmetik sosial semata namun dapat menjadi penuntun penting bagi manusia untuk membangun relasi baik dengan Penciptanya, dengan sesama umat manusia dan dengan alam di sekelilingnya.
AXL









TUHAN

EKSISTENSI TUHAN (Artikel 1)

    "Kalau segala sesuatu terjadinya serba kebetulan maka pasti Tuhan tidak ada"...DT

     Saya kadangkala, jika melihat pemandangan alam yang indah, lautan luas dengan aneka ragam isinya, langit yang cerah ataupun bintang2 dan sinar bulan yang lembut di malam hari, tumbuh2an yang beraneka ragam dan hewan yang bermacam-macam, selalu  kagum. Kekaguman itu adalah ekspresi saya untuk merespon apa yang saya lihat dan rasakan. 
 
Di lain waktu saya sering berpikir betapa rumitnya sistem organ manusia sebagai mahkluk hidup. Saya sering bertanya-tanya kenapa manusia memilik 2 buah mata, 1 hidung dengan 2 lubang lubang hidung, 2 kuping, 2 tangan, 2 kaki, lima buah jari di masing-masing kaki dan tangan?  Kenapa sistem organ tubuh manusia yang sedemikian kompleks dapat saling berkoordinasi dengan baik di dalam merespon rangsangan atau informasi  yang ditangkap oleh panca indra?
Selain itu, masih sangat2 banyak fenomena alam, fakta2 dan hal2 lain yang memunculkan pertanyaan bagi saya. Apakah segala sesuatu dapat terjadi begitu saja? Apakah segala hukum alam yang memenuhi aturan2 tertentu hanya suatu kebetulan saja?

Mustahil adanya bahwa tidak ada suatu penyebab yang menyebabkan itu semua. Kehidupan di bumi, eksistensi alam semesta dan kenyataan2 serta fenomena2 tak terbantahkan yang ada setiap hari pasti digerakan atau diatur oleh sesuatu. Suatu kekuatan maha dahsyat yang berkuasa, sangat cerdas, dan berkemampuan sempurna. Saya yakin bahwa itulah Tuhan. Entah dimana Dia berada, yang pasti Dia sangat hebat. Tidak mungkin bahwa segala sesuatu hanya kebetulan belaka.
Saya telah membaca beberapa referensi para atheist atau para ilmuwan jenius yang dapat menjelaskan, walaupun dengan penjelasan rumit yang perlu waktu untuk memahaminya, bahwa tidak ada hubungan antara Tuhan dan berbagai fenomena alam yang terjadi. Misalnya asal muasal alam semesta yang menurut beberapa teori berasal dari ledakan besar atau big bang. Hanya saja penjelasan ini tidaka dapat menjelaskan apa yang terjadi sebelum itu. Kondisi apa yahg ada sebelum ledakan besar tersebut. Sehingga garis waktu seakan berawal dari suatu ledakan besar yang mengawali terbentuknya alam semesta yang kemudian membentuk alam semesta dan segala bentuk peradaban sampai saat ini. Dengan demikian, penjelasan2 yang ada sebenarnya masih sangat terbatas dan belum dapat menjangkau kepada suatu penyebab utama dari segala sesuatu. Di sinilah terletak misteri yang tak terpecahkan dan tak terselami.
Sampai kepada titik ini, kemudian saya mengkonstruksi pemahaman sederhana  bahwa adalah mustahil bahwa segala sesuatu yang ada terjadi secara kebetulan. Semua yang ada terjadi dengan disengaja dan mengikuti aturan tertentu serta dikendalikan oleh suatu oknum tertentu yang mahakuasa yaitu TUHAN!

Kenapa kita manusia harus percaya atau mungkin terpaksa mempercayai eksistensi Tuhan? Jawaban paling sederhana dan logis adalah karena kita manusia belum sanggup atau mungkin tidak akan pernah sanggup untuk menjawab segala pertanyaan yang ada di dalam benak kita maupun yang ada di sekeliling kita maupun yang ada di alam semesta ini. Begitu banyak misteri yang tidak dapat kita pecahkan. Begitu luas rahasia alam yang tersembunyi sehingga menjadi tidak masuk akal apabila kita manusia, dengan rapuh dan terburu-buru, dilandasi pemikiran2 putus asa yang tergambar dalam pandangan yang cenderung menyederhanakan dan mereduksi sebab musabah segala sesuatu, langsung menyimpulkan bahwa karena Tuhan itu tidak ada, tidak nampak dan tidak dapat didefinisikan secara materi maka Tuhan itu tidak ada.

Pandangan negasi akan eksistensi Tuhan yang berakar kepada paham simplifikasi dan reduksionisme secara umum menjadi populer di tengah kehidupan masyarakat yang hidup di dalam rutinitas penuh tekanan. Serangan paham hedonisme dan materialisme yang gencar secara perlahan meminggirkan pemikiran dan pembelaan logis bahwa bukan karena sesuatu itu tidak nampak maka sesuatu itu tidak ada.
 Para atheist atau pengingkar Tuhan mengalami kesulitan luar biasa untuk dapat menjelaskan dengan baik bahwa apakah logis apabila struktur kehidupan yang kompleks dapat terjadi dengan sendirinya tanpa ada suatu kekuatan dahsyat yang menggerakannya?

Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang cepat, revolusioner dan semakin mapan pada gilirannya telah berhasil menjawab berbagai pertanyaan dan masalah yang ada. Rasa penasaran manusia menjadi mesin pendorong yang kuat baginya untuk mencoba terus menerus membuka tudung misteri alam semesta. Namun sampai dimanakah batas misteri itu tercapai? Kapankah tudung misteri itu terangkat? Tidak ada yang tahu pasti...
Dengan demikian di dalam keterbatasannya, ketidaktahuannya dan segala kekurangannya maka menjadi sangat logis bagi seluruh umat manusia untuk mengakui bahwa Tuhan itu ada...

 Jangan hanya sibuk mencari Tuhan di dalam kitab-kitab, rumah-rumah ibadah, kotbah-kotbah, doa-doa yang panjang dan bertele-tele namun carilah Tuhan disekeliling kita, dalam pemandangan yang indah, bunga-bunga yang mekar semerbak, matahari yang bersinar hangat, hujan yang menyuburkan, laut yang luas, angin sepoi-sepoi, sanak saudara kita yang perlu pertolongan, para pengungsi, para orang sakit, anak yatim piatu, janda-janda yang memerlukan uluran bantuan dan alam semesta karena sesungguhnya disitulah Tuhan bersemayam...AXL